<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sang Nananging Jagad</title>
	<atom:link href="http://sangnanang.dagdigdug.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sangnanang.dagdigdug.com</link>
	<description>Hamemayu Hayuning Bawana</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Aug 2011 07:04:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Spirit Anak Merapi</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/08/15/spirit-anak-merapi/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/08/15/spirit-anak-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 06:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi Tiada Henti]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[wisata blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[SPIRIT TAKKAN PERNAH MATI Tahun ajaran baru telah dimulai. Anak-anak bangsapun kembali ke bangku sekolah. Meski ada yang tidak lagi dapat meneruskan cita-cita pendidikannya karena keterbatasan biaya, semoga jumlahnya tidak kian bertambah. Dan lihatlah anak-anak sekolah itu! Sorot matanya, langkah &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/08/15/spirit-anak-merapi/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #ff0000"><strong>SPIRIT TAKKAN PERNAH MATI</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-4.jpg"><img class="alignleft" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-4-247x300.jpg" alt="" width="247" height="300" /></a><span style="color: #3366ff">Tahun  ajaran baru telah dimulai. Anak-anak bangsapun kembali ke bangku  sekolah. Meski ada yang tidak lagi dapat meneruskan cita-cita  pendidikannya karena keterbatasan biaya, semoga jumlahnya tidak kian  bertambah. Dan lihatlah anak-anak sekolah itu! Sorot matanya, langkah  kakinya, ceria candanya! Betapa tekad, semangat dan harapan terpancar  dari aura nuraninya yang penuh kemurnian. Merekalah tunas muda harapan  bangsa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Kalaupun  kita sudah sangat gerah dengan gosip dan gonjang-ganjing politik yang  tidak etik di negeri ini, kalaupun kita  tidak lagi berpengharapan akan  kesejahteraan yang lebih baik, kalaupun kita sudah sangat berputus asa  tentang pemberantasan korupsi, tentang penegakan hukum, pendidikan yang  kian mahal, kemerosotan moralitas, dan segala macam tanda kiamat di  negeri ini, lihatlah kepada anak-anak kita! Hanya kepada merekalah  harapan terbitnya fajar kehidupan yang lebih baik di masa depan layak  kita sandangkan. Anak-anak adalah anak jaman.<span id="more-777"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Merapi memang telah usai dengan <em>gawe</em> <em>kendurian</em>-nya. Namun justru para bocah Merapi baru menapaki <em>wayah</em> <em>gumregah</em>-nya. Saat bangkit untuk menempa diri agar siap <em>nglintir</em> estafet kehidupan dari para pendahulunya. Melalui hajatan Festival  Tlatah Bocah V, spirit itu digaungkan ke segenap Nusantara, bahkan dunia  semesta raya. Bertajuk <em>Wayah Gumregah</em>, harapan baru terbitnya fajar yang cerah coba diresapi dan dihayati hingga ke lubuk sanubari.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Tlatah  Bocah merupakan wadah bagi penyaluran bakat dan kreativitas para bocah  di selingkaran gunung Merapi. Acara yang rutin digelar saat liburan  kenaikan kelas ini kini sudah berlangsung untuk yang ke lima kalinya.  Adalah Komunitas Rumah Pelangi Muntilan yang menginisiasi dan  menggawangi agenda ini. Tahun ini Tlatah bocah telah didukung oleh lebih  dari 25 komunitas di selingkaran Merapi, bahkan Salatiga, Kulon Progo,  Jakarta. Yang lebih istimewa, tahun ini para bocah Merapi mulai <em>nggandeng</em> <em>konco</em> <em>bule</em>-nya dari Australia.</span></p>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-12.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-12-300x200.jpg" alt="" width="236" height="156" /> </a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-13.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-13-300x200.jpg" alt="" width="235" height="156" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff"><em>Wayah Gumregah</em> diawali dengan laku <em>Merti Jiwo</em> di Pusung Malang, satu situs sejengkal dari pucuk Merapi di jalur desa  Stabelan, Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali tepat tanggal  4-5 Juni 2011. Sebagaimana nama agenda Tlatah Bocah, memang festival ini  didedikasikan dari, oleh dan untuk para bocah. Merekalah subyek  sekaligus obyek, sementara para orang tua dan <em>mas mbak</em> mereka bertindak sebagai fasilitator dan pendorong.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Nafas  utama Tlatah Bocah adalah pentas seni dan kreativitas para bocah. Ada  wayang bocah, janthilan bocah, kobra siswo, ndayakan, ndolalak, ………  Akhir pekan adalah hari pentas. Setiap kelompok atau paguyuban kesenian  yang digawangi para bocah itu satu per satu mendapatkan giliran untuk  unjuk kebolehannya dalam wadah <em>Laku Lampah, lakone lelakon</em>,  alias jalannya perjalanan. Berkenaan dengan saudara-saudara yang masih  terkena dampak sekunder lahar dingin Merapi dan terpaksa masih tinggal  di hunian sementara, maka <em>Laku Lampah</em> sengaja digelar di lokasi  huntara, masing-masing Jumoyo Kabupaten Magelang, Cangkringan Kabupaten  Sleman, dan Ndeles Kabupaten Klaten. <em>Laku Lampah</em> dihelat pada tanggal 12, 19, dan 26 Juni 2011.</span></p>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-11.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-11-300x200.jpg" alt="" width="240" height="160" /></a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-1.jpg"> <img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-1-300x200.jpg" alt="" width="240" height="160" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Puncak  dari segala pentas adalah diselenggarakannya Gelar Budaya di desa Sengi  Kecamatan Dukun pada 9 – 10 Juni 2011. Acara yang berlangsung <em>ngedur</em> dari Sabtu siang hingga Minggu malam itu secara penuh menampilkan 20 paguyuban seni bocah, diantaranya <em>angguk rame, jaran debok, kobra siswo, topeng ireng, gelap ngampar, wayang bocah</em>, musik etnik, teater rakyat, <em>mahesa buteng,</em> hingga <em>cakar</em> <em>lele</em> dan aman perkusi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Selaian  wahana pengembangan kreativitas seni, Tlatah Bocah tahun ini juga  menjadi ajang mempererat tali kerabat diantara bocah se-Nusantara dengan  diselenggarakannya <em>Bala Dhewe</em>. Dalam selang waktu satu minggu, para bocah yang kebanyakan anak-anak kota dari luar daerah diperkenankan <em>ngenger, ngangsu kawruh</em> dan belajar tentang kehidupan <em>karang pradesan</em>. Mereka hidup bersatu bersama warga dusun, menikmati kesejukan hawa Merapi, belajar bersawah dan berkebun, belajar <em>angon kebo</em>, dan tentu saja bermain permainan tradisional ala bocah dusun.</span></p>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-7.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-7-300x200.jpg" alt="" width="246" height="164" /> </a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-10.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-10-300x200.jpg" alt="" width="248" height="165" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Hajatan Tlatah Bocah V dipungkasi dengan <em>Larung Sukerti</em>,  sebuah laku pembersihan jiwa terhadap segala pamrih, segala dosa,  segala laku dan perilaku yang menyimpang, serta dari segala pikiran,  perkataan, maupun perbuatan yang tercela. Laku ini digelar di temaram  lembayung senja, tepat di mulut muara Kali Progo, di sisi pantai Trisik,  Kulon Progo.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Merapi  adalah pralambang kebesaran dan ketinggian. Kemahabesaran dan  kemahatinggian adalah semata-mata milik Tuhan Semesta Alam, maka adalah  bukan hak manusia untuk mengenakannya. Akan tetapi bercermin kepada  sebuah gunung, manusia diajarkan untuk memiliki ketinggian dan keluhuran  budi pekerti, tata krama, akhlakul karimah, serta moralitas. Di sisi  lain, laut merupakan pralambang keluasan dan kedalaman dunia. Di lautlah  segala muara air berlabuh. Laut seolah menjadi tujuan akhir setiap  perjalanan hidup. Kepada lautlah kita belajar tentang makna keluasaan  jiwa dan hati sebagai cermin kesabaran. Kepada laut pulalah kita  dibimbing untuk memahami makna kedalaman hakekat nilai kehidupan.</span></p>
<p><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-6.jpg"><img src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/07/TB5-6-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify">A<span style="color: #3366ff">ntara  gunung dan laut adalah satu kesatuan garis kehidupan yang dihubungkan  alur sungai. Dan Kali Senowo, Kali Blongkeng, Kali Lamat, Kali Putih,  serta Kali Gendol dan Krasak dipadukan oleh Kali Progo untuk  menghantarkan setiap kesenyawaan gunung bersatu padu dengan kesenyawaan  laut. Trisik-lah titik <em>manunggaling</em> ketinggian dan kedalaman, sekaligus kebesaran dan keluasan hidup. Inilah simbol dan pemaknaan laku <em>Larung Sukerti</em> yang menjadi gerbang penutup Tlatah Bocah, 17 Juli 2011.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Tlatah  Bocah memang telah berakhir. Namun serangkaian hajat yang digelar  hendaknya menjadi momentum kebangkitan hidup yang terpatri di dalam dada  setiap bocah Merapi. Bocah adalah masa depan bangsa. Hanya di dada para  bocah harapan akan cerahnya masa depan bangsa dan negeri masih layak  kita tambatkan. Spirit bocah Merapi takkan pernah mati! <em>Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti!</em> Selamat Hari Anak Indonesia! Semoga Tuhan menyertai bangsa ini.</span></p>
<p style="text-align: right">Ngisor Blimbing, 17 Juli 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/08/15/spirit-anak-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Seminar Pendekar Tidar II</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/28/dari-seminar-pendekar-tidar-ii/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/28/dari-seminar-pendekar-tidar-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 06:03:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar tidar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[BLOGGER BALA TIDAR GAGAS INTERNET SEHAT Internet sebagai anak kandung teknologi dan globalisasi seakan sudah menjadi satu keniscayaan bagi masyarakat modern. Perkembangan internet bagaikan reaksi bom nuklir yang tidak terkendali, sangat dahsyat dan mengguncang setiap sendi peradaban manusia. Tidak di &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/28/dari-seminar-pendekar-tidar-ii/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center"><span style="color: #ff0000"><strong>BLOGGER BALA TIDAR </strong></span></h2>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><strong>GAGAS INTERNET SEHAT</strong></span></h2>
<p style="text-align: center"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207946.jpg"></a><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207946.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2430" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207946.jpg" alt="" width="471" height="352" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Internet sebagai anak kandung teknologi dan globalisasi seakan sudah menjadi satu keniscayaan bagi masyarakat modern. Perkembangan internet bagaikan reaksi bom nuklir yang tidak terkendali, sangat dahsyat dan mengguncang setiap sendi peradaban manusia. Tidak di kota dan tidak pula di desa, internet bisa diakses dengan sedemikian mudahnya, bahkan lewat telepon genggam. Demikian halnya dari segmentasi umur, pengguna internet tidak terbatas kepada kalangan dewasa, ataupun orang tua. Anak-anak, dari taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga menengah, semua tidak asing dengan binatang internet.<span id="more-772"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Melalui <em>facebook</em> dan <em>twitter</em>, aplikasi internet hadir di genggaman remaja kita, tentu saja melalui sarana telepon genggam. Lalu pertanyaan kita, apakah manfaatnya remaja kita ber-<em>facebook</em> ria atau ber-<em>twitter</em> ria? Pertanyaan inti inilah yang coba dijawab oleh Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang dengan menggelar Seminar Pendidikan bertema “Internet Sehat untuk Generasi Masa Depan”. Acara berlangsung pada Sabtu, 25 Juni 2011, bertempat di Pendopo drh. Soepardi, Kompleks Sekretariat Pemerintah Kabupaten Magelang, Kota Mungkid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Acara yang digelar sebagai peringatan HUT Komunitas Blogger Pendekar Tidar Magelang yang ke-II ini menghadirkan para tokoh pemerhati dan praktisi internet. Diantara nara sumber yang memberikan materi adalah Acep Saepudin dari <a href="http://internetsehat.org">Internet Sehat Indonesia/ICT Watch</a>, Bahtiar Rifa’i dari Komunitas <a href="http://b-h-i.blogspot.com">Blogger BHI</a> Jakarta, Gunawan Juliyanto dari <a href="http://www.tlatahbocah.org">Tlatah Bocah</a>, dan Rahardian Mukti selaku <em>admin</em> group Wisata Magelang di <em>facebook</em>.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207947.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2442" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207947.jpg" alt="" width="481" height="360" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Acara seminar dibuka secara resmi oleh Kepala Sie Pengajaran SMA, mewakili Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga yang berhalangan hadir karena bersamaan dengan peresmian operasional jembatan Kali Pabelan. Dalam sambutannya disampaikan bahwa, “internet adalah penyedia berjuta informasi yang sangat lengkap dan tak akan ada habisnya untuk digali. Melalui internet kita bisa mendapatkan pengetahuan mengenai resep masakan hingga bahan ajar bagi anak didik. Ini adalah salah satu contoh tentang penggunaan internet secara sehat dan bermanfaat”.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“Demikian halnya melalui internet pula dapat diunggah ataupun diunduh gambar, situs ataupun muatan yang bersifat pronografi, pornoaksi dan kekerasan. Muatan ini bisa diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak dan remaja kita. Ini barangkali bisa disebut sebagai penggunaan internet yang tidak sehat bila dilihat dari koridor umur, keperluan, nilai kepatutan serta moralitas kita. Hal ini tentunya sangat riskan bagi perkembangan generasi muda kita. Oleh karena itu adalah peran kita bersama, para pendidik, orang tua, keluarga dan masyarakat untuk mengawasi dan mengarahkan remaja kita kepada penggunaan internet secara sehat dan bertanggung jawab.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207941.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2435" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207941-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sesi pertama mengetengahkan dua narasumber dengan dipandu moderator Nanang Tiagung, selaku Sesepuh Pendekar Tidar. Pembicara pertama, Bahtiar Rifa’i menyampaikan bagaimana awal mulanya ia mengenal internet secara lebih mendalam justru saat ia menjadi petugas penjaga warnet sewaktu masih mahasiswa. Dari sanalah ia mulai mengenal blog.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Selepas kuliah ternyata ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja di bidang IT, mulai sebagai <em>data entry</em>, pengolahan data dan pembuatan <em>database</em>. Blog terus ditekuni dengan postingan yang ringan dan sederhana, semisal bagaimana cara membuat <em>e-mail</em>, bagaimana membuat <em>blog</em>, hingga cara membuat <em>facebook</em> dan <em>twitter</em>. Dari sinilah dikenalnya berbagai teman dari berbagai latar belakang di dunia maya. Perkenalan itu berlanjut dengan kopdar-kopdar yang digelar. Akhirnya untuk menepis rasa rindu akan suasana <em>ndeso </em>di tengah perantauan ibukota, bersama dengan beberapa blogger perantau semisal Kang Nanang, <a href="http://bangsari.blogspot.com">Bangsari</a>, dan Rohibun mulai nongkrong di tepian Bunderan Hotel Indonesia. Inilah tonggak kelahiran Komunitas Blogger BHI di pusaran kota Jakarta.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Berawal dari obrolan <em>guyonan</em> dan tidak serius, berkisahlah Bangsari tentang anak-anak tetangganya yang tidak mampu melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Mulailah <em>rerasan</em> itu ditulis oleh para anggota BHI, dan luar biasanya mendapatkan respon positif dari blogger berbagai jaringan. Inilah program yang kemudian dikenal luas sebagai <em>Blogger for Bangsari</em> pada 2007. Program ini menggalang dana beasiswa dalam bentuk kambing untuk dipelihara para siswa kurang mampu. Tidak hanya berhenti dengan kambing, BHI menghimpun buku dengan gerakan 1000 buku. Dari target 1000 ternyata yang terkumpul lebih dari 3200 buku, bahkan ada bantuan dana dari kedutaan Amerika Serikat. Inilah salah satu manfaat penggunaan internet sehat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pembicara ke dua adalah Acep Saepudin mewakili Internet Sehat/ICT Watch Jakarta, sebuah <em>NGO</em> yang bergerak dalam penanaman budaya internet sehat di kalangan masyarakat secara luas. Pemaparan diawali dari perkembangan perangkat komunikasi jarak jauh, mulai dari telpon <em>jadul</em>, komputer, internet, modem hingga <em>handphone</em>. Lebih lanjut disinggung pula tentang penggunaan berbagai teknologi tersebut untuk <em>social networking</em> secara lebih luas, lebih cepat, efektif dan efisien.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207942.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-2437" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207942-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Contoh pemanfaatan internet secara sehat digambarkan secara <em>apik</em> oleh Kang Acep melalui penggambaran kerja jarak jauh dengan internet yang dapat menghidari kemacetan, kebisingan, polusi, hingga pemborosan bahan bakar. Cukup dari tempat tidur, segala pekerjaan bisa tertangani dengan baik! Ada juga contoh seorang tukang becak di Jogja yang menggunakan internet untuk menawarkan paket wisata tradisional berbasiskan seni dan budaya lokal, lengkap dengan tujuan <em>hunting</em> kuliner yang mengasyikkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Berbicara tentang internet yang tidak sehat, Kang Acep menyampaikan bagaimana perkembangan <em>facebook</em> dan <em>twitter</em> yang sangat dahsyat. Hampir dari setiap hadirin peserta seminar mengacungkan tangannya saat ditanya apakah mereka memiliki <em>account facebook</em>. <em>Facebook</em> adalah sarana untuk narsis, demikian sebagian peserta menyatakan kegunaan media ini. Segala hal di-<em>update</em> sebagai status, sedang <em>males</em>, sedang putus cinta, sedang marah, sedang frustasi dll! Bahkan secara tidak sadar banyak pengguna <em>facebook</em> yang men-<em>share</em> foto-foto pribadi yang bersifat privasi tanpa melakukan proteksi. Pose diri di kolam renang atau di pantai, misalkan. Inilah peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarluaskan  muatan tersebut secara tidak bertanggung jawab pula. Walhasil terjadilah pornografi, pornoaksi, penipuan melalui dunia maya, juga pencemaran nama baik.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Lebih lanjut disampaikan tips internet sehat yang meliputi: pendampingan internet untuk anak di bawah umur, pelajari sarana dan teknologi internet, pelajari kandungan informasi internet yang positif, jangan menanggapi ajakan pihak lain yang tidak jelas dan tidak dikenal, amankan data dan muatan pribadi yang sangat privasi, termasuk peran orang dewasa untuk memblokir situs yang berisi kekerasan, pornografi, dan pornoaksi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Digambarkan pula contoh penggunaan internet oleh saudara kita yang mengalami keterbatasan fisik, namun tidak menyurutkan langkah untuk berkarya, khususnya bagi saudara sesama penyandang cacat tubuh. Dialah sosok Rahaditya Adikara sang blogger tuna netra. Terakhir ditampilkan kreativitas anak-anak jalanan dengan lukisan yang dibuat dengan program grafis dan disebarluaskan ke dunia maya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sesi ke dua diawali dengan presentasi Gunawan Juliyanto dari Tlatah Bocah. Tlatah Bocah adalah agenda festival tahunan yang ramah anak. Kegiatan ini digelar di selingkaran gunung Merapi dengan melibatkan 25 lebih komunitas seni budaya dan sosial kemasyarakatan. Saat inipun tengah berlangsung Festival Tlatah Bocah V dengan tema <em>Wayah Gumregah</em>. Melalui agenda ini diharapkan warga Merapi bangkit dari keterpurukan setelah peristiwa erupsi Merapi yang banyak menelan harta dan benda, bahkan nyawa warga Merapi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207943.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2438" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207943-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Bagaimana Tlatah Bocah memanfaatkan internet? <em>Facebook, twitter</em>, termasuk <em>blog</em> digunakan secara optimal untuk menjaring pertemanan dan sosialisasi ide, serta agenda kegiatan yang digagas. Dari <em>sharing</em> informasi inilah berbagai pihak merespon dengan sangat antusias, bahkan banyak diantaranya yang kemudian mengulurkan dana maupun bantuan untuk operasional kegiatan anak Merapi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pembicara terakhir, Rahardian Mukti dari Wisata Megalang <em>at Facebook</em>, mengungkapkan betapa Magelang sangat kaya raya dengan potensi wisata yang semestinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keprihatinan mendalam disampaikan karena potensi yang luar biasa ini tidak digarap dengan apik oleh pemda setempat. Hal ini terlihat dengan jelas pada tampilan <em>website</em> pemda yang kurang informatif dan tidak ter-<em>update</em> dengan baik.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di sisi lain melalui dunia maya, banyak teman, rekan, sahabat, dan sedulur warga Magelang maupun seseorang yang pernah tinggal, sekolah, atau apapun dan memiliki hubungan sosiologis dan psikologis dengan kota gethuk, sangat ngangeni suasana asrinya Magelang. Akhirnya dari sinilah terdorong niat untuk mengabadikan gerak nadi Magelang melalui jepretan foto-foto yang kemudian diunggah melalui <em>facebook</em>. Ternyata di luar dugaaan, respon sangat luar biasa. Bahkan saat ini penikmat WM telah melampaui angka 12.000 member. Satu langkah kecil yang diharapkan ke depan mampu menarik para waisatawan untuk berkunjung ke Magelang. Dengan banyaknya kunjungan wisata, harapan lebih lanjut adalah tergeraknya sektor ekonomi riil. Perdagangan, kerajinan, kesenian, pertanian, kuliner akan turut terangkat dan tentu saja akan semakin banyak rakyat yang merasakan dampak peningkatan penghasilan dan kesejahteraannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"> </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Setiap sesi presentasi senantiasa <em>rame</em> dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta seminar yang antusias bertanya kepada para narasumber. Apa bayangan cita-cita di masa kecil, serta obsesi keinginan ke depan dengan aktivitas berinternet sempat terlontar dari salah seorang peserta. Ada pula pertanyaan tentang motivasi para pembicara menggunakan internet untuk beraktivitas dalam kegiatan yang lebih bersifat sosial. Mengapa tidak melalui internet mencari materi atau uang? Terlontar pula pertanyaan bagaimana merealisasikan ide, mimpi dan cita-cita menjadi satu kenyataan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di samping berbagai tentang seluk beluk dunia internet, pada kesempatan seminar ini juga disampaikan penghargaan dan piala kepada para pemenang lomba menulis bertema “1001 Sisi Erupsi Merapi” yang telah digelar sebelumnya. Lomba ini digelar untuk memupuk minat dan bakat menulis di kalangan pelajar atau siswa tingkat SLTP dan SLTA. Di samping itu, melalui lomba ini juga sekaligus dijadikan ajang untuk mendokumentasikan berbagai kesan, perasaan, harapan, sekaligus aspirasi untuk bangkit dari keterpurukan akibat erupsi Merapi, tentu saja dari sudut pandang remaja kita.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207945.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2440" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/P10207945-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pemenang lomba untuk tingkat SLTP adalah  Juara I Eriszha Berti Navelia dari SMP Negeri 1 Muntilan dengan tulisan berjudul Awan Mendung di Balik Erupsi Merapi. Juara II A. Nur Safi’i dari SMP Negeri 2 Borobudur dengan tulisan berjudul Pengaman “Bronjong” Belum Tersentuh”. Sedangkan Juara III  Dwi Purnomo  juga dari SMP Negeri 2 Borobudur dengan tulisan Erupsi Merapi Memisahkan Dua Propinsi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun pemenang tingkat SLTA masing-masing adalah Juara I Zaidah Rifah Uswatun  dari SMA Negeri 1 Muntilan dengan tulisan Berkah Tersembunyi Di Balik Erupsi Merapi. Juara II Makfud  dari SMK Muhammadiyah Salaman dengan tulisan berjudul Si Merapi Membuat Suka Dan Duka. Serta Juara III Yhuhana  dari SMK Negeri 1 Salam dengan tulisannya Hari-Hari Yang Menegangkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Demikian coretan napak tilas dari kegiatan Seminar Pendidikan Internet Sehat untuk Generasi Masa Depan. Agenda ini diharapkan bisa rutin tergelar setiap tahunnya, hingga bisa menjadi ajang pengembangan potensi, kemampuan dan wawasan para pendidik beserta kalangan remaja di wilayah Magelang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah turut mensukseskan acara ini, Dispora Kab Magelang, XL Magelang, Radar Magelang, Magelang FM, Internet Sehat/ICT Watch, dan segenap barisan Bala Tidar.</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">Ngisor Blimbing, 27 Juni 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/28/dari-seminar-pendekar-tidar-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUT JAKARTA</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/23/hut-jakarta/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/23/hut-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 02:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi Tiada Henti]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[wisata blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Apa Ada Angin Di Jakarta by Komunitas Kenduri Cinta on Thursday, July 2, 2009 at 5:43pm Ditulis Oleh: Sang Nananging Jagad Kotanegara Jakarta telah melampaui usia 482 tahun. Berawal dari suatu bandar kecil di muara Ciliwung yang bernama Sunda Kelapa. &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/23/hut-jakarta/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h2><span style="color: #0000ff">Apa Ada Angin Di Jakarta</span></h2>
</div>
<div>
<div>by <a href="http://www.facebook.com/MaiyahKenduriCinta">Komunitas Kenduri Cinta</a> on Thursday, July 2, 2009 at 5:43pm</div>
</div>
<p style="text-align: justify">Ditulis Oleh: <a title="http://www.facebook.com/note.php?note_id=92889848457&amp;ref=mf#/profile.php?id=1299233038&amp;ref=ts" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1299233038&amp;ref=ts" target="_blank">Sang Nananging Jagad</a></p>
<p><span style="color: #3366ff">Kotanegara Jakarta telah melampaui usia 482 tahun. Berawal dari suatu  bandar kecil di muara Ciliwung yang bernama Sunda Kelapa. Setelah  pertempuran sengit antara pasukan Fatahilah yang mempertahankan  pelabuhan dari bangsa asing, maka Sunda Kelapa kemudian diperintah oleh  Pangeran Jayakarta pada tahun 1527. Semenjak itulah Sunda Kelapa lebih  dikenal sebagai Jayakarta.</span></p>
<div style="text-align: justify">
<div><span style="color: #3366ff"><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc1/6569_126287432138_34798057138_3412700_5707827_n.jpg" alt="" /></span></div>
<div style="text-align: center"><span style="color: #3366ff">Pasar Baru 1949<span id="more-767"></span></span></div>
</div>
<p style="text-align: justify">
<span style="color: #3366ff"> Kedatangan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada 1596 di  Banten jelas mengancam posisi strategis Jayakarta. Seiring dengan  pendirian kongsi dagang Hindia Timur(VOC) pada tahun 1601, mereka ingin  menguasai Jayakarta. Dan memang tak selang berapa lama, Jayakarta jatuh  ke tangan VOC untuk kemudian diganti namanya menjadi Batavia. Konon nama  Batavia berasal dari Bataav, nama suku asal-usul nenek moyang bangsa  Belanda. Kata Batavia yang diucapkan oleh lidah para pribumi kemudian  menjadi Batawi, lalu lebih akrab dengan Betawi.</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Usaha merebut kembali Batavia ke pangkuan ibu pertiwi pernah dilakukan  oleh Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusuma, berturut-turut pada  tahun 1625 dan 1626. Namun sungguh sayang usaha tersebut mengalami  kegagalan. Batavia tetap menjadi kekuasaan Belanda, bahkan setelah VOC  dibubarkan Batavia ditetapkan sebagai ibukota Pemerintahan Kolonial  Hindia Belanda.</span></p>
<div style="text-align: justify">
<div><span style="color: #3366ff"><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-snc1/6569_126287567138_34798057138_3412701_179755_n.jpg" alt="" /></span></div>
<div><span style="color: #3366ff">Glodok</span></div>
</div>
<p style="text-align: justify">
<span style="color: #3366ff"> Di era awal kemerdekaan RI, nama Batavia kemudian dikembalikan menjadi  Jakarta. Jakartapun kemudian ditetapkan menjadi ibukota Negara RI yang  baru diproklamasikan. Dewasa ini Jakarta menampung lebih dari 8 juta  penduduk. Belum lagi ditambah para pekerja harian yang hilir mudik,  keluar masuk Jakarta dari beberapa wilayah penyangga. Alhasil apa kabar  Jakarta saat ini?</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Kemacetan lalu lintas, polusi udara, air, dan tanah adalah warna  keseharian Jakarta. Masalah sampah, saluran drainase yang mampet, hingga  banjir adalah menu sehari masyarakat ibukota. Belum lagi masalah  kriminalitas, mulai pencopetan, pencurian, pembegalan, perampokan,  hingga pembunuhan setiap hari menghiasi surat kabar ibukota. Ditambah  lagi masalah sosial yang lain seperti pengangguran, penggusuran dan  pelacuran. Wah singkatnya ibukota kita ini belum layak untuk disebut  sebagai kota berperadaban.</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Udara yang panas menyengat, kebisingan yang menusuk telinga adalah virus  penyebab rasa stres dan teror mentalitas setiap warga. Jakarta semakin  sumpek dan pengap. Dan adakah kesegaran itu akan datang, masihkah ada  angin di Jakarta?</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> <em>Apa ada angin di Jakarta,<br />
Seperti di lepas Desa Melati,<br />
Apa cintaku bisa lagi cari,<br />
Akar bukit Wonosari.<br />
Yang diam di dasar jiwaku,<br />
Terlontar jauh ke sudut kota,<br />
Kenangkanlah jua yang celaka,<br />
Orang usiran kota raya.<br />
Pulanglah ke desa,<br />
Membangun esok hari,<br />
Kembali ke huma berhati&#8230;&#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Sederetan syair di atas oleh penyair Umbu Landu Paranggi, seorang  pangeran dari Sumba yang memilih hidup menggelandang di Malioboro pada  akhir 70-an. Sudah agak lama memang, namun serasa kata-kata dalam syair  tersebut senantiasa fasih merepresentasikan keadaan ibukota, bahkan  mungkin hingga sepanjang jaman.</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Dipandang dari sisi manusia awam, Jakarta adalah kota besar simbol  kemodernan atau bahkan “puncak” kemajuan peradaban manusia. Jakarta  dengan segala infrastruktur dan fasilitas yang dimilikinya dianggap akan  mampu mewujudkan mimpi manusia untuk menjadi “manusia”. Maka  berbondong-bondonglah warga desa untuk mengadu nasib di ibukota  tercinta. Tetapi apakah kemudian semua pendatang itu berhasil meraih  impiannya di ibukota?</span></p>
<p style="text-align: justify"><img class="aligncenter size-full wp-image-768" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/BHI-EmiSusi.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Hmmm&#8230;.para urban yang kurang beruntung itu ternyata telah terjebak  dalam tipu muslihat dan fatamorgana ibukota. Jangankan ketentraman hidup  didapat, malahan hakekat kebutuhan manusia yang mendasar itu semakin  jauh diraih, atau malah mungkin apa yang ditinggalkan di desanya itulah  hakekat yang mereka cari. Ibukota semakin sumpek dan pengap, seakan  tiada lagi ada angin di Jakarta.</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Jakarta memang bukanlah Wonosari, meski sebuah kota namun masih memegang  erat kedesaannya. Namun bagi para urban, desa adalah kandungan jiwa  yang maha luas dan senantiasa memberikan ruang yang cukup akan kebutuhan  jiwa mereka. Desa adalah hidup yang senyatanya, bukan sekedar impian  palsu. Desa adalah sahabat karib alam yang lebih mewakili hasrat fitrah  manusia, meskipun memang tidak dapat disangkal bahwa belakangan desapun  sudah mulai mengkota. Hanya demi merebut sedikit kue pembangunan yang  tidak merata itulah kaum urban terpaksa hijrah ke ibukota. Namun  Jakarta, apakah ada angin di Jakarta?</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Fitrah manusia adalah ketentraman jiwa, serta keguyuban hidup dengan  sesamanya. Adakah Jakarta masih menyisakan cintanya bagi segenap  warganya? Yang terjadi barangkali ibukota kita ini semakin berkembang  memfisik hingga satu per satu nilai nurani kejiwaanya terkikis dan  meluntur. Jakarta semakin kehilangan akar cinta kemanusiaannya. Jakarta  akan semakin menjadi raksasa bagi siapapun yang berani menantangnya.</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> <img class="aligncenter size-full wp-image-769" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/Monas-BalaTidar.jpg" alt="" width="400" height="300" />Jika memang Jakarta adalah raksasa, maka jangan heran jika kaum urban  semakin tersudut gerak hidupnya. Nilai dan harkat kemanusian menjadi  tidak penting untuk dihayati. Jakarta memang hanyalah rimba yang  sepenuhnya menerapkan hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang akan  keluar sebagai pemenang sejarah, dan siapa yang lemah dialah yang akan  menjadi mangsa sejarah. Dan semua itu katanya demi “kemajuan” peradaban  manusia modern.</span></p>
<p><span style="color: #3366ff"> Maka bagi yang masih tersisa nuraninya, pulanglah kembali ke desa.  Kembalilah ke pangkuan ibu pertiwi peradaban. Kenangkanlah kota dan  galilah kembali keluhuran hati nuranimu. Hanya dalam kejernihan hati  nuranimu jiwa yang tentram akan bersemayam. Maka jadilah manusia dengan  sifat kemanusiaanya, karena itulah kesejatian manusia.<em> Kampung Kosong, 22 Juni 2009</p>
<p>NB: Ditulis dalam rangka HUT Jakarta ke 482</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/23/hut-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETIDAKJUJURAN</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/15/ketidakjujuran/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/15/ketidakjujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 01:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sabda Utama]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[MASA DEPAN NEGERI SURAM Moralitas adalah pilar peradaban sebuah bangsa. Kejujuran sejatinya merupakan sendi nilai kebenaran. Apakah jadinya bila nilai kejujuran tercampakkan dari kehidupan kita? Akan jadi seperti apakah masyarakat yang dibangun dari sebuah kebohongan? Adakah relevan untuk bersikap jujur &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/15/ketidakjujuran/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #ff0000"><strong>MASA DEPAN NEGERI SURAM</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><img class="alignright size-full wp-image-757" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/Mulut.jpg" alt="" width="200" height="232" />Moralitas adalah pilar peradaban sebuah bangsa. Kejujuran sejatinya merupakan sendi nilai kebenaran. Apakah jadinya bila nilai kejujuran tercampakkan dari kehidupan kita? Akan jadi seperti apakah masyarakat yang dibangun dari sebuah kebohongan? Adakah relevan untuk bersikap jujur di era <em>jaman edan</em> ini?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Sebuah berita membahana ke seantero Nusantara tentang seorang bocah yang disuruh oleh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-teman sekelasnya. Dialah si Alif kecil dari Surabaya. Ibunya yang hanya lulusan <em>tsanawiyah</em>, telah dengan kukuh menanamkan nilai kejujuran di dalam rumah tangganya. Adalah kepolosan Alif yang menceritakan bahwa sang guru telah memojokkannya untuk mengingkari nilai kejujuran yang tertanam dalam di hati sanubarinya.<span id="more-756"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">“Kamu anak pintar! Kalau kamu ingin berbakti dan membalas jasa baik para guru, maka kamu harus membantu teman-temanmu dalam mengerjakan soal ujian! Kamu kelak akan menjadi orang sukses, bila temanmu boleh mencontek pekerjaanmu”, demikian kira-kira penuturan Alif kepada ibunya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Bagi kita yang masih menginginkan tegaknya kejujuran di negeri ini, tentu sangat perihatin dengan sikap guru tersebut. Apa jadinya anak bangsa yang sedari kecil dididik untuk tidak jujur oleh gurunya sendiri? Sepantasnya seorang guru memberikan tauladan kebajikan kepada murid, bahkan masyarakat yang lebih luas. Guru mestinya bisa <em>digugu lan ditiru</em>, dipatuhi dan dijadikan suri tauladan atas perilaku dan budi pekertinya. Guru adalah cahaya pelita di dalam kegelapan. Guru adalah setetes embun penyejuk dalam kehausan. Namun apa jadinya bila guru telah membunuh kejujuran anak bangsa? Pantaskah bila guru kita sebut sebagai <em>wagu tur saru</em>!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Guru kencing berdiri, murid kencing di belakangnya! Bila seorang guru telah melakukan tindakan tercela, tanpa disuruhpun sangat besar peluang para muridnya untuk menirukannya. Lebih gila dari sekedar menirukan adalah sang murid menghina dan menginjak martabat gurunya dengan tega mengencinginya tepat di arah belakangnya. <em>Jaman edan!</em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><img class="size-full wp-image-758 aligncenter" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/SBYkartun.jpg" alt="" width="240" height="177" />Kebohongan di negeri ini sudah dianggap menjadi sebuah kewajaran. Seseorang berkata-kata tidak pernah melalui sebuah perenungan dan pemikiran yang mendalam. Semua sekedar <em>waton njeplak,</em> asal bunyi. Sebuah kesanggupan kepada orang lain tidak pernah disertai niatan untuk konsekuen dan konsistensi guna mewujudkannya menjadi perbuatan yang nyata. Kebohongan adalah sebuah kesenjangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan seseorang. Sesuatu yang berbeda antara pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan suatu ketidakjujuran. Ketidakjujuran sama dengan kebohongan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Ketika seseorang saya tanya apakah bersedia bergabung dengan kami dalam agenda <em>merti jiwo</em> di Merapi? Ia menjawab besok saja ikut acara <em>laku lampah</em>. Saat <em>laku lampah</em> telah usai, saya tanyakan kembali apakah ia jadi mengikuti <em>laku lampah</em> sebagaimana yang dikatakannya sebelumnya? Dengan enteng ia menjawab, nggak jadi……</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Kebohongan seringkali dilakukan dengan penuh kesadaran. Semenjak awal kita mengatakan “A” kepada orang lain, padahal hati dan pikiran kita mengatakan bukan “A”. Bila kita menyatakan sebuah kesanggupan kepada pihak lain, seringkali detik itu juga jauh di lubuk nurani kita telah berniat untuk tidak melakukan kesanggupan itu. Untuk membalut kepalsuan itu agar tampak indah, bahkan kita seringkali membawa-bawa nama Tuhan dengan kata-kata “insya Allah”. Inikah sebuah kebohongan yang islamis?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Makna kata-kata insya Allah semestinya adalah bahwa kita, dari sisi ikhtiar kemanusiaan, 99% telah bertekad atau berniat untuk melakukan satu kesanggupan kepada orang lain. Hanya 1% kemungkinan kesanggupan itu batal! Itupun benar-benar karena sebuah ketidaksanggupan yang tidak terelakkan. Sebuah kehendak Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat! Namun pemahaman itu telah tercampakkan dengan teorika pencitraan atas nama agama. Mungkin saya keliru?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Seorang teman <em>dipasrahi</em> tugas melakukan publikasi sebuah agenda. Saat musyawarah memutuskan hal itu, teman tersebut menyatakan kesanggupannya. Itulah janji! Pada selang waktu yang masih panjang dari <em>dateline</em> yang ditentukan, teman yang lain senantiasa mengingatkan. Selalu dijawab <em>ya</em>, sebuah kesanggupan yang tidak berubah. <em>Elha kok</em> <em>ndilalah</em> hingga H-10 dari agenda kesanggupan itu belum juga dijalankan. Inikah contoh sebuah ketidakjujuran? Padahal ia seorang mahasiswa yang cukup kritis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><img class="alignleft size-full wp-image-759" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/Nurdin.jpg" alt="" width="221" height="221" />Ketidakjujuran adalah bahaya peradaban yang sangat dahsyat daya rusaknya. Agama manapun tidak pernah mengajarkan tentang kebohongan sebagai sebuah amalan wajib. Kebohongan adalah sebuah keharaman. Bagaimana kita diajarkan tentang tiga ciri sifat kemunafikan! Bila berkata maka kebohongan yang terlontar! Bila berjanji maka pengingkaran yang dilakukan! Bila diamanati, maka pengkhianatan yang dijalankan. Kemunafikan adalah racun kehidupan. Tapi kenapa kini kebohongan seakan menjadi sebuah kebutuhan?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Bila Nazaruddin tidak jujur uang yang dikorupnya, maka jangan heran bila dia ngelantur ke luar negeri dan tak tahu jalan pulang! Bila Nunun tidak jujur kepada nuraninya, maka tidaklah salah bila Tuhan menanamkan penyakit lupa di otaknya. Bila seorang Gayus yang ditahan tidak jujur terhadap sistem, terlebih diamini para oknum penghamba uang, maka ajaiblah seorang tahanan bisa jalan-jalan hingga Bali dan Hongkong. Bila Presiden, Wakil Presiden, para menteri, para pejabat eselon, hakim, jaksa, polisi, polistisi, wartawan, pedagang, guru, ulama, pendeta, biksu, semuanya tidak lagi berkomitmen menegakkan kejujuran, tunggulah negeri ini akan hancur. Sebuah negara gagal, <em>the fail state</em>, sudah diambang mata!</span></p>
<p><span style="color: #008000"><img class="size-full wp-image-760 align:center aligncenter" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/Efendi.jpg" alt="" width="275" height="183" /></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Apakah jadinya bila para birokrat tidak jujur? Ya, kleptokratlah hasilnya! Apakah jadinya bila wakil rakyat tidak jujur? Manipulasi hukum atas nama politik! Bilakah setiap aparat kehilangan kejujurannya? Korupsi, kolusi, nepotisme akan selalu merajalela! Dan apakah jadinya bila guru, para pahlawan tanpa tanda jasa itu sudah tidak jujur? Itulah pelanggengan atas segala sifat amoral. Dan bilakah sifat amoral telah menjadi kelaziman di tengah masyarakat? Negeri akan hancur! Masa depan sebuah bangsa sirna sebelum berkembang. Masa depan suram yang akan mengantarkan manusia ke gerbang kesengsaraan abadi, dunia dan akhirat! Sanggupkah kita memikulnya? Atau sikap apakah yang harus kita ambil?</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #008000">Ngisor Blimbing, 14 Juni 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/15/ketidakjujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merji Jiwo</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/07/merji-jiwo/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/07/merji-jiwo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 01:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[pohon]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[seni budaya]]></category>
		<category><![CDATA[slametan]]></category>
		<category><![CDATA[tidar]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Tiada Henti]]></category>
		<category><![CDATA[wisata blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[ARTI MERTI JIWO SEBAGAI LAMPAH HIDUP Manusia terdiri atas dua dimensi, jiwa dan raga, atau ruh dan jasmani. Untuk mencapai keseimbangan hidup, dipersyaratkan pula kedua dimensi tersebut harus berimbang. Dan keseimbangan ruhaniah dan jasmaniah hanya bisa digapai bila keduanya memiliki &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/07/merji-jiwo/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color: #0000ff"><strong>ARTI MERTI JIWO SEBAGAI LAMPAH HIDUP</strong></span></h3>
<p style="text-align: justify"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/Bende.jpg"><img class="size-full wp-image-2360 alignleft" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/Bende.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><span style="color: #0000ff">Manusia terdiri atas dua dimensi, jiwa dan raga, atau ruh dan jasmani. Untuk mencapai keseimbangan hidup, dipersyaratkan pula kedua dimensi tersebut harus berimbang. Dan keseimbangan ruhaniah dan jasmaniah hanya bisa digapai bila keduanya memiliki tingkat kesucian tertentu. Di sinilah makna pentingnya proses pencucian atau penyucian diri, raga sekaligus jiwa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pencucian raga seringkali kita lakukan dengan mandi ataupun cuci tangan, cuci muka, cuci kaki dan cuci kecil yang lainnya. Adapun penyucian jiwa dilakukan dengan berbagai <em>laku</em> ibadah maupun olah jiwa. Adalah sebuah keharusan ketika kita akan melangkah melakukan sebuah kerja ibadah, sebuah perjalanan, ataupun sebuah hajatan, kita awali dengan proses pencucian diri. Inilah inti sari prosesi <em>merti jiwo</em> yang diselenggarakan dalam rangka pembukaan hajat tahunan Tlatah Bocah yang digerakkan oleh Komunitas Rumah Pelangi Muntilan, Sabtu dan Minggu, 4-5 Juni 2011 di kawasan <em>dusun</em> Stabelan, desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali.<span id="more-751"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MakamSunanBagor.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2362" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MakamSunanBagor.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Prosesi diawali dengan ziarah kubur ke makam Sunan Bagor sebagai <em>cikal bakal</em> <em>dusun</em> Stabelan. Acara berlangsung di kesenyapan senja yang hening dengan temaram sinar lembayung sang mentari yang menuju pulang. Jalan setapak dan berliku dengan tebing terjal yang longsor di beberapa bagian menjadi penghubung wilayah <em>padukuhan</em> dengan lokasi makam yang berada di ketinggian <em>ereng-ereng</em> perladangan sisi uatara kampung. Di sanalah <em>sumare arwah</em> sang pelindung <em>dusun</em> dan semua kerabat <em>trah</em> Stabelan yang telah bersemayam di alam baka.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Asap kemenyam dan bau harum dupa segera semerbak memenuhi areal pemakaman saat <em>pemangku pamong</em> alias <em>Pak Bayan</em> Kirman <em>miwiti</em> doa terpanjat kepada Sang Hakarya Jagad. Dalam inti doa disebutkan, bahwa segenap masyarakat <em>dusun</em> mengucapkan rasa syukur <em>tan pepindhan</em> atas segala kerahmatan-Nya sehingga pada peristiwa erupsi Merapi beberapa waktu lalu, semua warga selamat dan tidak ada yang menjadi <em>bebanten</em>. Oleh karena itu malam hari tersebut warga berkeinginan untuk menggelar malam <em>tirakatan</em> dan <em>seslametan</em> agar ketentraman warga dapat terus berlanjut hingga waktu-waktu yang akan datang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di sisi lain, permohonan doa kelancaran hajat juga disampaikan <em>wabil khususon</em> untuk acara Tlatah Bocah ke-5 yang menjadi momentum segenap warga sekawasan Merapi untuk <em>gumregah</em>, bangkit menyongsong hari depan yang lebih cerah. <em>Wayah gumregah</em>, saat kebangkitan dari keterpurukan terhadap nasib dan cobaan sebagai “efek samping” erupsi Merapi. Doa keselamatan dipanjatkan agar serangkaian acara yang telah tersusun dan diagendakan dalam kurun 4 Juni – 17 Juli 2011 dapat berlangsung <em>rancag kalis ing samudaya sambekala.</em></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MbahWalji.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2364" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MbahWalji-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Acara malam <em>tirakat</em> berlangsung semarak karena dihadiri oleh segenap <em>sesepuh</em>, <em>pinisepuh</em> dan <em>kasepuhan,</em> seluruh pemuka agama dan <em>pamong praja,</em> serta seluruh pemuda dan remaja <em>sedusun</em>. Selain inti acara selamatan, malam itupun digelar acara sarasehan budaya yang mengangkat tema tentang Merapi dan Keberagaman tingkat lokal, dengan nara sumber <em>Mbah</em> Walji dari Forum Persatuan Umat Beriman dan Mas Ribut dari KPU Boyolali.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dari diskusi terangkat fakta tentang keberagaman dari sudut pandang warga Stabelan. Bagaimana corak dan kekhasan seni <em>jathilan</em> <em>wetan nggunung</em> dan <em>kulon nggunung</em> sempat membuka wacana awal. Semangat guyub, rukun, kebersamaan dan gotong royong juga diulas cukup mendalam dengan berbagai sudut pandang peserta sarasehan. Mas Muji, salah satu warga berpendapat, bahwa dalam lingkup <em>dusun</em> yang kecil, seperti Stabelanpun, selalu terjadi perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan. Di sinilah peran penting dari pranata sosial yang terus terpelihara dengan kebijaksanaan dan pengaruh kepemimpinan Pak Bayan, mampu menjadi jembatan silang pendapat yang terjadi. Segala perselisihan dimusyawarahkan bersama untuk mendapatkan pemecahan masalah. Demikian halnya semangat kegotong-royongan masih <em>ngrembaka</em> di setiap dada warga <em>dusun</em>. Sebagai misal, ada salah satu warga yang akan membangun rumah, maka hanya dengan sekedar <em>getok tular</em>, tanpa harus meminta bantuan satu per satu ke rumah warga, pasti akan dibantu. Yang memiliki waktu luang di pagi hari, <em>ya</em> membantu di waktu pagi. Demikian halnya yang memiliki waktu luang di sore hari, <em>ya</em> membantu kala sore. Hal ini sudah menjadi sebuah kesepakatan sosial dan satu kewajaran.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Stabelan sebagai areal subur di lereng Merapi tentu sangat akrab dengan <em>tata among tani</em>. Hampir semua warga Stabelan menggantungkan mata pencahariannya dari pertanian. Maka malam itupun diskusi juga mengangkat isu pertanian lokal. Mas Ribut sengaja memancing keributan tentang unsur hara yang diperlukan untuk menyusun kesuburan tanah. “Di jaman dulu, para <em>simbah</em> mengajarkan agar apabila kita memakan daging ayam, maka tulangnya tidak boleh dimakan dan harus dipendam dalam tanah. Manusia sekarang bayangkan! <em>Balung</em> itu tidak hanya <em>diklamuti</em>, tetapi <em>diklethak</em> dan <em>disesep-sesep</em> sungsumnya hingga hancur lebur. Padahal ternyata, dalam tulang itu sebenarnya terkandung unsur Ca ataupun Na yang menyusun hara tanah. Para <em>simbah</em> itu memberikan <em>weling</em> itu ternyata telah mempertimbangkan tata keseimbangan alam, dalam hal ini kesuburan tanah”, demikian wacana Mas Ribut.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SarasehanStabelan.jpg"><img class="size-full wp-image-2366 alignright" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SarasehanStabelan.jpg" alt="" width="300" height="225" align="center" /></a>Dari masalah kesuburan tanah, diskusi juga merembet ke masalah pembibitan. Betapa petani sekarang tidak lagi berdaya, bahkan merdeka untuk <em>mbibit bibit-</em>nya sendiri. Semua terjadi sebagai akibat budaya instan dan serba praktis. Para pengusaha penyedia bibitpun melakukan rekayasa untuk menghasilkan varietas yang tidak menghasilkan biji, bahkan bunga sekalipun. Akibatnya adalah ketergantungan petani akan produk bibit instan dari pabrikan. Kapan petani kita akan mendiri? Siapa yang bersalah? Tentu tidak mudah untuk menemukan jawabannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Inti dari sarasehan yang <em>ngalor-ngidul</em> itu bahwa keberagaman adalah sebuah perbedaan yang dirasakan sebagai sebuah keindahan. Perbedaan hadir sebagai sebuah pelengkap dan kelengkapan hidup satu sama lain diantara sesama hidup. Keberagaman atau pluralisme adalah penerimaan perbedaan sebagai realitas dan kenyataan hidup. Dengan demikian, agar keberagaman itu <em>maujud</em> menjadi sebuah keindahan, kata kunci yang tidak boleh ditinggalkan adalah toleransi. Sikap saling menghargai, <em>tepo slira</em> satu sama lain, serta sifat saling asah, saling asih, dan saling asuh harus terus dipupuk dan dipelihara.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sarasehan ditutup dengan doa dan <em>kembul bujono sego gurih lawuh ingkung</em> sebagai pralambang permohonan agar hidup lebih manis untuk dijalani. Doa sekaligus sebagai permohoan izin apabila dalam rangkaian hajatan Tlatah Bocah nantinya memerlukan ataupun membuat gangguan <em>banyu sak cawuk, godhong sak suwek, canggal sak ciklek</em>, <em>suket sak rawut</em>, diberikan maaf dan ampunan agar tidak mengubah tata keseimbanga alam.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/KidungPambuko.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2370" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/KidungPambuko.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Tengah malam adalah momen <em>sawang-suwung ing awang-uwung</em>. Saat hening dengan isi satu kekosongan. Saat yang sangat kontemplatif untuk mendengarkan kesunyian. Titik nol kejiwaan! Inilah saat yang paling tepat untuk <em>nabuh bendhe</em> sebagai pratanda akan digelarnya hajatan <em>ageng</em> <em>Tlatah Bocah Wayah Gumregah</em>. Sebuah tarian eksploratif mengantarkan hadirin menikmati kesunyian puncak malam. Hitamnya kegelapan dan kemilaunya bintang di angkasa, menjadi saksi teralunnya <em>kidung kinasih kekasih </em>Maha Kasih. Doa lintas iman terucap dalam balutan <em>syair kekidungan</em> yang menghanyutkan jiwa untuk senantiasa tunduk <em>manembah</em> kepada Yang Maha Kuasa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>Lingser wengi</em> dimanfaatkan para <em>pelaku lampah</em> untuk mengistirahatkan sejenak jiwa dan raga dalam pelukan mimpi malam yang sepenggal. <em>Wayah</em> <em>jago kluruk sepisanan</em>, para <em>pelaku</em> <em>lampah</em> berjajar membariskan diri untuk laku raga, menjalani jalan mendaki menuju puncak Merapi sebagai simbol puncak kehidupan dimana biduk hidup akan berlabuh. Situs Pusung Malang itulah titik tujuan yang hendak dicapai.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dengan rasa dingin penusuk tulang yang berubah menjadi aliran peluh di sekujur badan, para <em>pelaku lampah</em> menyusuri jalan setapak nan terjal dengan tebing tinggi di sisi kiri dan kanannya. Semak belukar dan hamparan perdu, serta serakan pepohonan yang tumbang tidak menyurutkan langkah. Segala rintangan dan tantangan hidup harus ditembus untuk mencapai puncak cita-cita. Dua jam berjalan merayap, tibalah para <em>pelaku lampah</em> di Pusung Malang.</span></p>
<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MenapakMerapi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2372" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/MenapakMerapi.jpg" alt="" width="215" height="161" /></a> <a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/GegeniMerapi.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2373" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/GegeniMerapi.jpg" alt="" width="212" height="160" /></a></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sejengkal di atas Pusung Malang digelarlah eksplorasi tari <em>Sajian Alam</em>. Alunan hening seruling dan dentuman bunyi <em>bendhe</em> menghantarkan setiap makhluk untuk berkembara sejenak dalam keheningan. Di tengah keheningan itulah jiwa manusia bertegur sapa dengan jiwa alam. Betapa kemudian menusia sangat kerdil di hadapan alam. Betapa manusia tidak memiliki sesuatu apapun untuk dibanggakan dan disombongkan di muka alam, terlebih lagi di haribaan Tuhan seru sekalian alam.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SetyokoTanam.jpg"><img class="size-full wp-image-2374 alignleft" src="http://pendekartidar.org/wp-content/uploads/2011/06/SetyokoTanam.jpg" alt="" width="224" height="167" /></a>Alam adalah sahabat manusia. Alam adalah landasan kehidupan. Antara Allah-Aku-Alam adalah satu kesatuan segitiga cinta prasayarat hidup. Maka menjadi tugas manusia untuk memangku alam, hidup harmonis dalam tata kelola dan tata keseimbangan alamiahnya alam. Merapi adalah alam kami. Merapi adalah inspirasi kami. Merapi adalah jiwa kami. Merapi adalah anugerah Ilahi. Merapi, jiwamu abadi di dalam keabadian jiwa kami! Merapi, jiwamu, jiwaku, jiwa kita menyatu dalam berkah Ilahi. <em>Merti jiwo</em>, bersih jiwamu, bersih jiwaku!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right">Gajah Mada, 6 Juni 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/07/merji-jiwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbincang Internet Sehat</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/01/berbincang-internet-sehat/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/01/berbincang-internet-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 08:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[internet sehat]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar tidar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tidar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[Info lanjut di Komunitas Pendekar Tidar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/SPIS2011.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-745" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/06/SPIS2011.jpg" alt="" width="450" height="605" /></a></p>
<p><span style="color: #ff0000">Info lanjut di</span> <a href="http://pendekartidar.org">Komunitas Pendekar Tidar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/06/01/berbincang-internet-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gema Tlatah Bocah V</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/30/gema-tlatah-bocah-v/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/30/gema-tlatah-bocah-v/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 00:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Magelangan]]></category>
		<category><![CDATA[Bocah]]></category>
		<category><![CDATA[magelang]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[tidar]]></category>
		<category><![CDATA[Tlatah Bocah]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Tiada Henti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[SAAT PARA BOCAH BERPESTA Ingin turut bergabung? Info agenda lebih lengkap silakan ke sini! sumber: Harian Kompas, Kamis 26 Mei 2011, halaman 13]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center"><span style="color: #008000">SAAT PARA BOCAH BERPESTA</span></h2>
<h2 style="text-align: center"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/Kompas-TB2011.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-737" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/Kompas-TB2011.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></h2>
<h2 style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><strong>Ingin turut bergabung? </strong></span></h2>
<h3 style="text-align: center"><strong><span style="color: #ff0000">Info agenda lebih lengkap silakan ke<a href="http://pendekartidar.org/tlatah-bocah-v.php"> sini</a>!</span></strong></h3>
<h5 style="text-align: center"><strong><span style="color: #ff0000"><span style="color: #3366ff">sumber: Harian Kompas, Kamis 26 Mei 2011, halaman 13</span><br />
</span></strong></h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/30/gema-tlatah-bocah-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Negeri atau Swasta</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/23/sekolah-negeri-atau-swasta/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/23/sekolah-negeri-atau-swasta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 07:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[SabdaKawula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[ASAL JANGAN KOMERSIALISASI! Pendidikan! Hmmm….. kata itu semakin menggambarkan sesuatu yang sangat mewah dan mahal. Sebuah kebutuhan yang semakin melambung di awan tinggi, seolah bagaikan impian abadi yang sangat sulit untuk dijangkau rakyat awam. Butuh nggak butuh sich! Meskipun seharusnya &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/23/sekolah-negeri-atau-swasta/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: right"><span style="color: #ff0000"><strong>ASAL JANGAN KOMERSIALISASI!</strong></span></h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/Yoyok.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-727" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/Yoyok.jpg" alt="" width="284" height="210" /></a>Pendidikan! Hmmm….. kata itu semakin menggambarkan sesuatu yang sangat mewah dan mahal. Sebuah kebutuhan yang semakin melambung di awan tinggi, seolah bagaikan impian abadi yang sangat sulit untuk dijangkau rakyat awam. Butuh <em>nggak</em> butuh <em>sich!</em> Meskipun seharusnya sangat butuh! Bahkan penting untuk kelangsungan generasi masa depan!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Jaman memang kian sulit. Harga kebutuhan hidup semakin meningkat. Sementara pendapatan tetap jalan di tempat. Lalu apa yang terjadi? Kesenjangan antara pendapatan dan pemenuhan kebutuhan semakin lebar. Artinya bahwa skala prioritas sebuah anggaran pendapatan dan belanja sebuah rumah tangga akan terkuras untuk kebutuhan pokok. Kebutuhan primer seperti pangan, sandang, dan papan menjadi penyerap pendapatan yang paling dominan. Akhirnya kebutuhan sekunder semisal pendidikan harus “diakal-akalin” agar tetap terpenuhi, meskipun dalam kualitas yang tidak maksimal. <em>Jer basuki mowo bea,</em> kata orang Jawa. Setiap sesuatu memang memerlukan pengorbanan. Pendidikan apalagi!<span id="more-726"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Meskipun lingkup pendidikan tidak hanya menjadi ranah pendidikan formal, namun kebanyakan orang masih mengukur parameter pendidikan dengan sekolah formal. Nah, pada saat kita dihadapkan kepada pilihan sekolah formal, tumbuh pertanyaan sekolah seperti apakah yang sesuai dengan anak kita namun sesuai juga dengan kemampuan orang tua. Bisa jadi kemudian pilihan menjadi sekolah negeri atau swasta.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Biaya sekolah menjadi faktor utama sebuah pertimbangan untuk menyekolahkan anak. Hal ini tentu bukan persoalan yang berat untuk orang kaya. Tetapi kenyataannya bahwa sebagian dari kita berkemampuan serba pas-pasan, bahkan dalam setiap pemenuhan yang paling pokok sekalipun. Paling tidak dari pengalaman saya sendiri, saat memasukkan anak saya ke sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD) di salah satu sudut Kota Tangerang. Ini baru PAUD! Kelas pinggiran lagi! Saya rasa tingkat sekolah yang lebih tinggi tentu lebih runyam lagi!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pertama kali masuk sudah terkena uang pendaftaran, uang seragam, uang komputer, uang ekstrakulikuler yang totalnya tak kurang dari Rp. 800.000,-. Uang bulanan, meskipun sekolahnya hanya dua jam per hari dipungut Rp. 50.000,-. Ini belum termasuk acara wisata, <em>outbond</em>, wisuda, dan masih banyak lagi agenda acara yang digagas penuh ketidakjelasan maksud, tujuan, dan manfaatnya bagi seorang bocah. Intinya semua serba uang, dan serba duit!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Fakta ini sangat mungkin merupakan sebuah model mini untuk jenjang sekolah yang lebih tinggi. TK, SD, SLTP, SLTA, apalagi perguruan tinggi. Semua serba uang, mahal lagi! Apakah memang kualitas sebuah nilai pendidikan hanya terukur dengan uang saja? Apakah bila sekolah mahal berarti kualitas pendidikannya dijamin bagus? Apakah jaminannya? Apakah kualitas hanya terbeli dengan uang? Bisa jadi pilihan antara sekolah negeri dan swasta dipandang dari sudut pembiayaan masih relevan. Kenapa demikian?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sekolah negeri adalah sekolah yang dibangun dan dibiayai operasionalnya oleh negara. Bahkan untuk tingkat pendidikan dasar, yang mencakup SD dan SLTP katanya digratiskan. Meskipun kenyataannya tidak lebih manis daripada janji pemerintah tersebut, namun paling tidak biaya sekolah negeri jauh lebih murah dibandingkan swasta. Banyak sekolah negeri yang telah memiliki nama, sebutlah sekolah favorit, memiliki kualitas pendidikan yang telah diakui masyarakat. Paling tidak indikator yang bisa dilihat, mulai dari standar penerimaan siswa, prestasi sekolah, tingkat kelulusan dan nilai rata-rata siswa, serta ketersaluran lulusannya pada jenjang sekolah yang lebih tinggi dan berpredikat favorit juga. Itu sekolahan favorit <em>lho</em>!</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Nah keberadaan sekolah negeri favorit tentu sangat terbatas dibandingkan jumlah anak usia sekolah pada tingkatan tertentu. Akhirnya harus ada persaingan untuk memasukinya. Kemudian bagi mereka yang tidak tersaring masuk dan tersingkir, terus mencari sekolah yang mana? Kalau mau tetap di sekolah negeri, biaya terjangkau, namun kualitas yang diinginkan tidak terpenuhi. Mau ke sekolah swasta yang ternama tidak terjangkau. Lalu? Dilematis memang pilihan orang tua jaman sekarang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Inilah pentingnya kejelian orang tua untuk memilih sekolah yang terbaik bagi anaknya. Pertimbangan harus matang dan berimbang antara kualitas dan kemampuan pembiayaan.  Namun ada beberapa aspek yang barangkali terlupa. Faktor apa sajakah sebenarnya yang mempengaruhi kualitas proses pendidikan? Barangkali beberapa hal bisa dikemukakan, seperti sekolah, termasuk sarana prasarana di dalamnya, ada guru, kurikulum, bahkan yang paling penting siswa dan orang tuanya sendiri.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Idealnya memang semua faktor itu memiliki kualitas terbaik. Namun faktor pembiayaan yang menjadikan biaya sekolah menggelembung adalah sarana prasarana dan kegiatan ektrakurikulernya. Oleh karena itu bila kita dihadapkan kepada pilihan kualitas, sebaiknya pertimbangan utama adalah siswanya sendiri, guru, baru kemudian sarana pelengkap. Bila si anak memiliki kemampuan yang pas-pasan, adalah kurang bijaksana bila orang tua memaksakan anaknya harus masuk sekolah favorit yang mahal sekalipun, hanya untuk menjadi juru kunci peringkat di kelasnya! Sebaliknya seorang anak yang cerdas tidak akan bertambah bodoh hanya karena ia sekolah di sekolah yang tidak terkenal dengan bimbingan para guru yang mumpuni.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Anak yang cerdas tidak hanya terlahir dari sekolah yang ideal. Fakta telah banyak menceritakan betapa dari sebuah sekolah miskin Muhammadiyah di pedalaman pulau Belitong telah lahir Andrea Hirata. Kita juga dapat membayangkan seperti apakah sekolahnya Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dll. Semua dalam kesederhanaan! Tentu yang dimaksudkan di sini bukan berarti belajar pada sekolah dengan fasilitas yang lengkap menjadi salah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata. Masih ada orang tua, dan lingkungan masyarakat. Yang terpenting untuk dilakukan adalah bagaimana mensinergikan segala potensi siswa, motivasi dan dukungan orang tua, serta suasana lingkungan masyarakat yang kondusif untuk menanamkan budaya belajar dan semangat pembelajaran yang baik. Sekolah jangan terjebak pada komersialisasi pendidikan untuk mengeruk laba bagi kepentingan para oknum di dalamnya. Masyarakatpun jangan mudah tergiur oleh tawaran dan tampilan fisik sebuah sekolah. Di sini kemudian menjadi kurang relevan untuk mempertentangkan sekolah negeri dan swasta.</span></p>
<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Gajah Mada, 23 Mei 2011</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/23/sekolah-negeri-atau-swasta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kilas Inovasi Anak Bangsa</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/kilas-inovasi-anak-bangsa/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/kilas-inovasi-anak-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 02:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sabda Utama]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Compfest2011]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Inovasi dan Indonesia, apakah ada hubungannya? Coba kita renungkan Borobudur yang gagah perkasa sejak abad VIII! Apakah kita bisa membayangkan apa yang ada di pikiran Raja Samaratungga saat ia perintahkan Gunadarma untuk menyusun satu per satu batu Merapi hingga menjadi &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/kilas-inovasi-anak-bangsa/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/GajahMada.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-718" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/GajahMada.jpg" alt="" width="250" height="332" /></a>Inovasi dan Indonesia, apakah ada hubungannya? Coba kita renungkan Borobudur yang gagah perkasa sejak abad VIII! Apakah kita bisa membayangkan apa yang ada di pikiran Raja Samaratungga saat ia perintahkan Gunadarma untuk menyusun satu per satu batu Merapi hingga menjadi bangunan suci di bumi Swambara Budhura itu? Di samping penghayatan yang dalam akan ajaran Budha, tentu cita, cipta, rasa dan karsa tinggilah yang terolah menjadi karya besar kebanggaan anak bangsa. Itulah inovasi!</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Kitapun bisa merunut bagaimana Majapahit berhasil mempersatukan Nusantara.  Sebuah kumpulan pulau, suku bangsa, budaya dan adat istiadat yang berbeda namun menyatu dalam semboyan <em>bhinneka tunggal ikha, tan hana darma magrwa.</em> Sebuah realitas keragaman dalam bingkai persatuan, implementasi politik negara integral. Itupun inovasi.</span><span id="more-717"></span><br />
<span style="color: #3366ff"> Belum lagi di bidang kesusasteraan. Ingatkah kitab Ramayana, Mahabarata, Pararaton, Sutasoma, Negarakertagama, hingga Wredatama dan Wulangreh? Semua mengandung nilai filosofi yang dalam dan cita rasa seni yang maha tinggi. Kedalaman makna, keluasan cakrawala pikir anak negeri Nusantara tidaklah kalah dari bangsa China, India, Persia, Mesir, Romawi, bahkan Eropa modern sekalipun. Itupun inovasi pada ranah pikir!</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kita ditakdirkan untuk menjadi pemimpin dunia. Para filosof bahkan mengakui bahwa Nusantara adalah penggalan tanah surga di belahan zamrud khatulistiwa. Anda mengenal ubi kayu, ketela pohon, atau singkong? Di tangan anak negeri ini singkong bisa diolah menjadi <em>gaplek, thiwul, gethuk, slondhok, pothil, lanthing, kripik, kontolir, sawut, rondo royal, klemet, tape, peuyeum!</em> Bayangkan baru dari satu jenis bahan! Semua karena kreativitas otak manusia yang melakukan inovasi.</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Masih ada lagi batik, keris, gamelan, wayang, reog, jathilan, kethoprak, ludruk, <em>kobra siswo, ndayakan, topeng ireng, ndolalak, kuntulan, tayub</em>, sintren, dan <em>laras madyo</em>. Ditambah lagi seudati agam, lilin, piring, jaipongan, gambyong, bedoyo, ngremo, kecak, legong, hingga gantar dan cakalele. Juga ada rendang, bika ambon, pempek, gado-gado, karedok dan kerak telur. Kemudian d<em>odol, gudeg, lumpia, bakpia, rawon, lemper, semar mendem</em>, hingga <em>pecel lele</em>. Semua hasil olah budi dan daya Nusantara!</span></p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/WayangKulit.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-719" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/WayangKulit.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff"> Bila ingat dan sadar bahwa kita memiliki segala syarat sebagai bangsa besar, apakah ada alasan bagi kita untuk rendah diri di hadapan bangsa lain? Bahkan dewasa ini betapa hampir setiap bulan anak negeri ini menjadi juara di berbagai olimpiade fisika dan matematika, adakah itu tidak membesarkan hati kita untuk segera bangkit dari mimpi?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #3366ff">Anak negeri inipun tercatat telah mampu membuat pesawat sekelas N250 yang mampu mengepakkan sayapnya lebar-lebar bagaikan keperkasaan Garuda Jaya. Segala prestasi berkelas dunia telah ditorehkan. Nenek moyang kita semenjak dahulu kala telah memberdayakan akal, budi, cita, cipta, rasa dan karsa untuk berinovasi menghasilkan karya besar. Mereka menanamkan kepada kita untuk <em>nontoni, namati, niteni, niroake,</em> dan <em>nambahi</em>. Artinya melihat, mencermati, meneliti ciri sesuatu, menirukan, dan menambahkan. Inilah prinsip inovasi!</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Dari sebuah inovasi dilahirkan karya dan cipta. Dengan karya yang memiliki nilai estetika tinggi dan berkelas dunia, kebesaran bangsa ini akan terangkat. Dunia akan kagum dan tunduk hormat akan kebesaran bangsa ini. Kitapun bisa dengan bangga menggunakan karya dalam negeri. Inilah awal kemandirian sebuah bangsa. Bangsa yang mampu tegak di atas kakinya sendiri, berdikari secara ekonomi, merdeka dalam politik, serta bermartabat dalam budaya.</span><br />
<span style="color: #3366ff"> Era kini adalah era informasi. Komputer dengan kecanggihan internetnya telah mampu mempersempit ruang dan waktu. Di bidang inipun banyak karya telah ditorehkan. Mulai dari pemrograman, film animasi, <em>game</em>, robotik, hingga <em>hacker </em>telah lahir. Kita tentu juga berharap akan banyak anak bangsa ini yang menjelajahi Silicon Valley sebagaimana putra India hadir di sana. Pengembangan aplikasi internet berbasis <em>open source</em> juga banyak diminati kalangan muda kita. Inovasi, inovasi dan apalagi kalau bukan inovasi? Bila Anda penasaran dengan kiprah mereka, hadirlah di <a href="http://www.compfest2011.com">Computer Festival</a> yang digelar 14 – 16 Juni 2011 di gedung Smesco Jakarta. Rasa penasaran Anda pasti akan terjawab! Jayalah Nusantara, jayalah Indonesiaku tercinta!<br />
</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #3366ff">Ngisor Blimbing, 15 Mei 2011.</span></p>
<p style="text-align: left"><span style="color: #800000">Keterangan Foto:</span></p>
<p style="text-align: left"><span style="color: #800000">1. Patung Gajah Mada di Istana Anak TMII;</span></p>
<p style="text-align: left"><span style="color: #3366ff"><span style="color: #800000">2. Gelar Jejeran Wayang Kulit, TMII.</span></span></p>
<p style="text-align: left">&nbsp;</p>
<p><a title="COMPFEST2011.com" rel="dofollow" href="http://compfest2011.com" target="_blank"><img src="http://compfest2011.com/img/bannerblogging.png" alt="Blogging Competition Compfest 2011" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Tulisan ini diikutsertakan dalam ajang </span><a href="http://www.compfest2011.com/?id=b#?w=800&amp;id=n1"><span style="color: #008000">Blogging Competition</span></a><span style="color: #008000"> dalam rangka </span><a href="http://www.compfest2011.com"><span style="color: #008000">Compfest2011</span></a><span style="color: #008000"> bertema Inovasi Karya Anak Bangsa menuju Kemandirian Nasional.</span></p>
<p style="text-align: left"><span style="color: #3366ff"><span style="color: #800000"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/kilas-inovasi-anak-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Gress dan Bangsa Indonesia Baru</title>
		<link>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/pemimpin-gress-dan-bangsa-indonesia-baru/</link>
		<comments>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/pemimpin-gress-dan-bangsa-indonesia-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 02:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangnanang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kenduri Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai mBeling]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangnanang.dagdigdug.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Hujan memang tiada henti mengguyur ibukota sejak selepas Isya’. Bahkan hingga detik maiyyahan dimulaipun, langit terus menganugrahkan kesejukan air sucinya. Kurang lebih pukul 20.30 acara dimulai dengan “ritual wajib” berupa lantunan sholawat, dzikir, dan Surat Yasin. Selepas itu acara diskusi &#8230; <a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/pemimpin-gress-dan-bangsa-indonesia-baru/">Lanjutkan membaca <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><strong><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/AliPuisi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-708" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/AliPuisi.jpg" alt="" width="250" height="332" /></a>Hujan</strong> memang tiada henti mengguyur ibukota sejak selepas Isya’. Bahkan hingga detik maiyyahan dimulaipun, langit terus menganugrahkan kesejukan air sucinya. Kurang lebih pukul 20.30 acara dimulai dengan “ritual wajib” berupa lantunan sholawat, dzikir, dan Surat Yasin. Selepas itu acara diskusi diawali dengan penampilan Mas Faridnya “Mbah Surip” dan suguhan musik Anak Nusantara.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Diawali pemaparan Mas Adi mengenai latar belakang pengambilan tema kepemimpinan yang gres. Bahwa di Indonesia setiap pergantian rejim penguasa selalu terjadi melalui suatu proses yang tragis. Soekarno turun karena kudeta. Suharto turun karena reformasi. Gus Dur turun karena sidang istimewa. Habibi dan Megawati tidak masuk hitungan karena mereka hanya “pengganti presiden”. Nah yang sekarang ini, nampaknya juga akan turun dengan cara yang berbeda namun masih tidak enak juga. Apakah akan selalu demikian? Niat rakyat pada setiap pergantian rejim ya ada perbaikan hidup. Tapi setelah reformasi berjalan sekian tahun, kok malah makin banyak suharto-suhartonya! Dan nyebar ke daerah-daerah lagi!</span><span id="more-707"></span><br />
<span style="color: #0000ff"> Mas Ibrahim menambahkan uraiannya. Apakah seorang pemimpin akan hadir melalui sebuah proses by desain? Ataukah pemipin lahir sebagai sebuah keharusan sebuah jaman. Pada sebuah masyarakat yang sedang mengalami kegalauan jaman, rusaknya sendi kemanusiaan, kemunduran moralitas, kemaksiatan yang merajalela di mana-mana, manusia merindukan sosok pemimpin yang dapat menyelamatkan negeri dan bangsanya. Ada yang menyebutnya ratu adil, nabi, wali, sang pencerah, mesias dan lain sebagainya. Kepemimpinan seorang pemimpin yang diusung dalam tema diskusi kali ini adalah kepemimpinan yang mengacu kepada istilah imammah. Imam dari kata umm, satu akar kata dengan ummi, artinya ibu. Pemimpin yang welas asih, melindungi, mengayomi, memberi, mendampingi, menyayangi dan segala macam sifat keibuan yang lain.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Lebih lanjut, Mas Andre melengkapi. Bila kita jujur melihat kemunduran kehidupan di negara kita, kira-kira siapakah pemimpin yang akan muncul di 2014? Adakah kita masih memiliki harapan akan hadirnya sosok pemimpin sejati? Apakah sistem kita bisa melahirkan pemimpin yang kita inginkan bersama? Dalam wacana pikiran secara logis, nampaknya tidaklah mungkin pemimpin sejati lahir dari sebuah bangsa yang terpuruk dan bobrok! Itu bila kita berpegang pada dimensi kebumian! Namun justru kebalikannya, bila kita bersandar kepada dimensi langit, justru saat sebuah kaum dilanda kebobrokan dan kerusuhan peradaban, maka di sanalah Tuhan akan menurunkan sosok pemimpin yang mampu “mrantasi” keadaan. Bukankah seorang nabipun hadir di tengah kerusakan moral kaumnya? Dan menegakkan peradaban kembali sebagaimana digariskan Tuhan adalah tugas kepemimpinan!</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Sisa dingin air hujan terasa segera sirna dengan hadirnya Cak Nun ke tengah jamaah. Ia datang didampingi Gus Mus “Lampung”, Cak Fuad, Pak Frans Welirang, Dik Doank, Sabrang, Pak Candra dan beberapa tamu lain. Malam tersebut Ustadz Nursamad Khamba berhalangan hadir karena siang harinya Beliau berduka ditinggal ayahanda tercinta. Moga arwah almarhum diberikan kelapangan jalan di sisi-Nya.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Cak Nun mengawali, orang Jawa mengenal hitungan siklus ji-ro-lu dan juga ji-ro-lu-pat. Soal kepemimpinan bisa kita hitung secara sederhana dengan siklus itu. Hitung saja mulai Soekarno presiden pertama, Suharto ke dua, Gus Dur ke tiga. Jangan hitung Habibie dan Megawati, karena mereka berdua hanya penggantinya presiden. SBY ini berarti presiden ke empat. Presiden pertama jatuh karena kudeta. Presiden ke dua jatuh karena people power. Presiden ke tiga jatuh karena sidang istimewa. Bila hitungan yang kita gunakan ji-ro-lu, berarti yang sekarang ini adalah presiden pertama jilid ke dua. Apakah ia akan turun dengan dikudeta, sebagaimana presiden pertama? Pun seandainya kita memakai siklus ji-ro-lu-pat, maka yang sekarang ini presiden ke empat. Bila pertama turun dikudeta, ke dua oleh people power, ke tiga oleh sidang istimewa, maka yang ke empat ini tentu akan turun bukan karena kudeta, people power maupun sidang istimewa, tetapi dengan cara yang lain. Nah mengenai apakah cara yang lain itu, nggak usah kita repot-repot memikirkannya wong ndak usah dijatuhkanpun dirinya sendiri sering melakukan banyak hal yang menjatuhkan dirinya sendiri.</span></p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/CN.jpg"><img class="size-full wp-image-709 aligncenter" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/CN.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<span style="color: #0000ff"> Hadirin sempat merenung dengan logika pemikiran Cak Nun ini. Tidak memiliki pemimpin yang tangguhpun, Indonesia tetap menjadi bangsa yang besar. Cak Nun melanjutkan, “Bayangkan bila Anda selesai buang air, tradisi di bangsa kita, Jawa, Sumatra, Sulawesi, kira-kira kita cebok atau pakai tisu. Nuwun sewu, orang Jawa mengistilahkan cewok sebagai cara membersihkan “jalannya” kotoran itu dengan air yang dibasuhkan. Adapun cara lain dengan mengusapkan, apakah dengan klaras, godhong, tisu, batu, atau mungkin pasir disebut “peper”. Dari sisi estetika dan medis kira-kira yang paling unggul, paling beradab dan hiegienis itu cewok apa peper? “</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Atas pertanyaan itu ternyata hadirin lebih sepakat bahwa cewok lebih beradab daripada peper. Kemudian Cak Nun meneruskan, “Nah sekali-kali Anda riset ke seluruh bangsa di dunia, rata-rata apakah mereka melakukan cewok apa peper? Mungkin hanya bangsa Indonesialah yang mengenal tradisi dan budaya cewok! Begitu kok kita mesti minder berhadapan dengan bangsa lain dan harus meniru segala produk budaya mereka. Maka saya nggak perlu sekolah S1, S2, ataupun S3 kalau hanya untuk berpindah tradisi dari cewok ke peper! Anda titeni di hotel-hotel mewah, gedung-gedung tinggi yang menjulang, lihat di WC mereka, apakah piranti penunjang yang mereka terapkan lebih memfasilitasi budaya cewok apa peper? Ini baru soal cewok dan peper! Logika yang sama bisa diperluas ke berbagai ranah kehidupan.”</span><br />
<span style="color: #0000ff"> “Bangsa Indonesia ini bangsa yang luar biasa! Orang-orang luar negeri yang numpang hidup di sini pada krasan-krasan semua. Mereka sangat mengagumi Indonesia. Lihat saja para pemain asing di Persijap, Persela dll! Mau-maunya mereka tinggal di kota kecil, Jepara, Lamongan, lha opo tumon? Mereka sangat menikmati aneka kuliner yang disajikan sepanjang Sabang sampai Merauke! Bayangkan saja makanan Eropa, dari ujung Norwegia hingga Spanyol makanannya yo mung ngono-ngono ae! Paling roti diberger, oles-oles sithik sithik margarin, keju, dipanggang, bakar, ngono thok! Cita rasanya nggak jauh berbeda! Anda bandingkan di Indonesia, nasi goreng saja aneka rasa. Jangankan Anda bandingkan seluruh Nusantara, nasi goreng di sini dengan di ujung gang sana sudah beda kok rasanya! Luarrr biasanya Indonesiaku ini! Belum lagi sate, gule, dan lain-lainya!” sambung Cak Nun berapi-api yang diselingi senyum tawa hadirin.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> “Nah untuk soal sate, Anda bisa bayangkan satu suku yang sangat terkenal dengan satenya namun justru di kampung halamannya sendiri tidak dikenal sate! Itulah sate madura! Kurang ajar ncen arek-arek itu! Silakan cari sate di pulau Madura! Mana ada! Begini kok mau mengalahkan Indonesia!”, Cak Nun membuat hadirin tambah kepingkal-pingkal.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Memuncaki maiyyah selepas puncak malam, hadirin khusuk melantunkan dzikir yang dipimpin oleh Gus Mus “Lampung”. Gus satu ini rupanya murid terkasih Mbah “Liem” Imampuro dari Karanganom, Klaten. Ia sekaligus guru dari Sabrang Letto. Malam terasa hikmat dan nglangut oleh gema dzikir dari jamaah.  Al Fatihah 99x, la illa ha illallah 265x………luar biasa! Ada yang khusuk, ada yang ngantuk, ada yang manthuk-manthuk, ada yang menangis, ada yang terharu, bahkan ada yang diam tertidur. Seribu satu rasa hadir di majlis itu!</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Selesai rangkaian dzikir, Cak Nun bertanya, “Yang tadi itu berat apa ringan?” Ada yang menjawab berat ada yang menjawab ringan. Cak Nun melanjutkan, “ Kalau Allah melihat hamba-Nya kira-kira dengan perasaan ringan atau berat? Sesungguhnya Allah berat melihat hambanya yang menderita dan kesusahan dalam hidupnya. Bila Allah berfirman tidak akan berubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau berusaha untuk merubah nasibnya sendiri, itu hanyalah sebuah syariat. Namun secara hakikat, yang sesungguhnya mengubah nasib hanyalah Allah. Jadi ya kira-kira Anda harus tetap berusaha, berikhtiar, 10% usaha Anda, nah yang 90% golnya itu biarlah menjadi urusan Tuhan! Apakah Anda juga mengira bahwa dengan pahala dari ibadah dan amalan Anda, Anda dapat masuk ke dalam surga? Bahkan Kanjeng Nabipun bertanya demikian kepada ummatnya. Dan ketika ummatnya berbalik bertanya, Nabi menjawab tidaklah cukup amalan manusia untuk menghantarkannya memasuki surga, kecuali atas limpahan rahmat Allah SWT. Maka bagi yang tadi menjawab ringan, mudah-mudahan Allah melipatkan cobaan yang menimpa Anda sepuluh kali lipat daripada yang tadi itu!”</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Uraian selanjutnya disampaikan oleh Cak Fuad, sang begawannya Padhang Mbulan. Nabi itu merasa berat melihat, mendengar dan merasakan penderitaan ummatnya. Inilah justru yang menjadi kunci kepemimpinan Kanjeng Nabi. Nabi senantiasa menginginkan setiap kebaikan untuk ummatnya. Prinsip kepemimpinan nabi adalah kepemimpinan imamah. Secara epistemologis immam memiliki akar kata umm, satu kerabat dengan ummi, artinya ibu. Seorang ibu akan memiliki sifat melindungi, melayani, mencurahkan segenap kasih sayangnya. Inilah sifat kepemimpinan yang sejati!</span></p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/CakFuad.jpg"><img class="size-full wp-image-710 aligncenter" src="http://sangnanang.dagdigdug.com/files/2011/05/CakFuad.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
<span style="color: #0000ff"> Di sisi lain, kepemimpinan di berbagai dunia saat ini lebih condong mempergunakan kata rois. Rois memiliki akar kata ra’sun atau riasah, artinya kepala. Sifat kepala adalah ingin selalu di atas, dihormati, menonjol, di depan, dan diistimewakan. Maka gaya kepemimpinan seorang rois cenderung minta dihormati, dilayani, disembah-sembah, apa yang menjadi keinginannya harus dipenuhi. Dengan demikian, baginya kekuasaan adalah alat untuk mencapai keinginannya sendiri, pribadi maupun golongan. Inilah nampaknya yang terjadi dan hadir di tengah-tengah kita.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Nah sikap apakah yang harus dilakukan ummat untuk menjemput hadirnya seorang imam yang amanah bagi masa depannya? Ya mau tidak mau kita harus merujuk kembali kepada firman Allah agar diberikan petunjuk. Seperti apakah orang yang diberi petunjuk itu? Di dalam surat Az Zumar ayat 18,  Allah mengatakan tentang orang-orang yang diberi petunjuk, yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dan melaksanakan yang terbaik, dengan mempergunakan akalnya, yasta’miuna minnal aqoula. Di sini ditegaskan orang yang mendengarkan, bukan hanya sekedar mendengar! Artinya mendengar itu yang sambil lalu saja, namun mendengarkan mengandung arti mencermati, menganalisa, dan kritis terhadap setiap informasi. Kemudian memilih dan memilah diantara yang terbaik untuk diamalkan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian informasi yang tersurat maupun tersirat akan dipahaminya dengan penuh kedalalaman makna.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Lebih lanjut, bagaimanakah syarat agar seseorang itu senantiasa diberi petunjuk oleh Allah? Di ayat 17 dijelaskan agar manusia menjauhkan diri dari thogut! Apakah thogut itu? Thogut adalah setiap sesuatu yang diperlakukan sebagaimana manusia memperlakukan Allah, dengan kata lain menyembah sesuatu yang bukan Allah. Paham bisa menjadi thogut, idealisme bisa menjadi thogut, kapitalisme, liberalisme, harta, tahta, dan wanitapun bisa menjadi thogut! Cak Nunpun bisa menjadi thogut bila tidak ditempatkan pada proposi yang semesetinya. Kemudian bagi orang yang mendapatkan petunjuk itu senantiasa mengembalikan setiap sesuatu yang dihadapinya hanya kepada Allah semata. Demikian uraian hikmah mulia yang dikucurkan oleh Cak Fuad pada dini hari yang sangat hening bening itu.</span><br />
<span style="color: #0000ff"> Diskusi masih berlanjut dengan uraian Pak Candra tentang kesalah-kaprahan nama maupun angka yang disandang banyak orang pada masa ini yang menimbulkan kesialan ataupun kendala hidup. Hadirin nampak semakin haus dan antusias untuk mereguk lagi dan lagi menu hikmah khas Kenduri Cinta, namun waktu berjalan demikian cepat hingga pukul 03.00 menjelang tanpa terasa. Maiyyahan pun kemudian ditutup dengan doa yang dipimpim oleh Gus Mus “Lampung”. Hmmmm….moga di kesempatan bulan-bulan selanjutnya diizinkan untuk hadir dan menikmati nikmatnya berkenduri cinta.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ngisor Blimbing, 15 Mei 2011</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangnanang.dagdigdug.com/2011/05/18/pemimpin-gress-dan-bangsa-indonesia-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

