Hujan memang tiada henti mengguyur ibukota sejak selepas Isya’. Bahkan hingga detik maiyyahan dimulaipun, langit terus menganugrahkan kesejukan air sucinya. Kurang lebih pukul 20.30 acara dimulai dengan “ritual wajib” berupa lantunan sholawat, dzikir, dan Surat Yasin. Selepas itu acara diskusi diawali dengan penampilan Mas Faridnya “Mbah Surip” dan suguhan musik Anak Nusantara.
Diawali pemaparan Mas Adi mengenai latar belakang pengambilan tema kepemimpinan yang gres. Bahwa di Indonesia setiap pergantian rejim penguasa selalu terjadi melalui suatu proses yang tragis. Soekarno turun karena kudeta. Suharto turun karena reformasi. Gus Dur turun karena sidang istimewa. Habibi dan Megawati tidak masuk hitungan karena mereka hanya “pengganti presiden”. Nah yang sekarang ini, nampaknya juga akan turun dengan cara yang berbeda namun masih tidak enak juga. Apakah akan selalu demikian? Niat rakyat pada setiap pergantian rejim ya ada perbaikan hidup. Tapi setelah reformasi berjalan sekian tahun, kok malah makin banyak suharto-suhartonya! Dan nyebar ke daerah-daerah lagi! Lanjutkan membaca
-
Arsip
- Agustus 2011
- Juni 2011
- Mei 2011
- April 2011
- Maret 2011
- Februari 2011
- Januari 2011
- Desember 2010
- November 2010
- Oktober 2010
- September 2010
- Agustus 2010
- Juli 2010
- Juni 2010
- Mei 2010
- April 2010
- Maret 2010
- Februari 2010
- Januari 2010
- Desember 2009
- November 2009
- Oktober 2009
- September 2009
- Agustus 2009
- Juli 2009
- Juni 2009
- Mei 2009
- April 2009
- Maret 2009
- Februari 2009
- Januari 2009
- Desember 2008
- November 2008
- Oktober 2008
- September 2008
- Agustus 2008
- Juli 2008
- Juni 2008
- Mei 2008
- April 2008
- Maret 2008
- Februari 2008
-
Meta






